Audiensi IAI DIY dan PPAr UII dengan Wakil Wali Kota Yogyakarta Bahas Masterclass Wellness Architecture “1 Kampung 1 Arsitek”

Perkuat Kolaborasi Arsitektur Berbasis Masyarakat

Ikatan Arsitek Indonesia bersama Program Studi Pendidikan Profesi Arsitek Universitas Islam Indonesia melakukan audiensi dengan Wakil Wali Kota Wawan Harmawan pada Selasa, 12 Mei 2026 di Balai Kota Yogyakarta. Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, organisasi profesi, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam membangun lingkungan perkotaan yang lebih sehat, nyaman, serta berkelanjutan melalui pendekatan arsitektur berbasis budaya dan pemberdayaan masyarakat.

Audiensi tersebut dilaksanakan dalam rangka silaturahmi sekaligus penyampaian undangan kepada Wakil Wali Kota Yogyakarta untuk hadir dan memberikan tanggapan dalam kegiatan Design Camp – Masterclass Wellness Architecture bertajuk “1 Kampung 1 Arsitek”. Program ini direncanakan akan berlangsung di Jamu Ginggang, Kampung Kauman, Kelurahan Purwokinanti, Kemantren Pakualaman, Yogyakarta, sebagai bagian dari upaya menghadirkan konsep penataan kampung yang lebih humanis dan berorientasi pada kualitas hidup masyarakat.

Hadirkan Kolaborasi Lintas Profesi dan Kampus

Rombongan audiensi terdiri dari jajaran Pengurus Provinsi IAI DIY, yaitu Ar. Erlangga Winoto, IAI, AA selaku Ketua, Sekretaris Umum Ar. Arief Oktava, IAI, Wakil Ketua II Ar. Heru Sutono, IAI, dan Koordinator Bidang Pengabdian Profesi Ar. RM. Cahyo Bandhono, IAI. Hadir pula tim dari Prodi PPAr UII yang terdiri dari Ar. Faiz Hamdi Suprahman, IAI, Ar. Agus Setiawan, IAI, dan Ar. Ariadi Susanto, IAI.

Selain unsur organisasi profesi dan akademisi, audiensi ini juga melibatkan Pamong Setunggal Kampung Setunggal Arsitek yang membawa semangat kolaborasi lintas komunitas. Tim desain dalam program tersebut terdiri dari mahasiswa PPAr UII, mahasiswa arsitektur lintas kampus, arsitek muda, serta masyarakat umum yang terlibat secara aktif dalam proses perancangan dan pengembangan gagasan.

Kehadiran berbagai elemen ini menunjukkan bahwa pembangunan lingkungan berbasis arsitektur tidak lagi menjadi ruang eksklusif profesi tertentu, tetapi telah berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan partisipasi masyarakat secara luas. Pendekatan kolaboratif semacam ini dinilai penting untuk menciptakan lingkungan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan sosial dan budaya masyarakat setempat.

Masterclass Wellness Architecture sebagai Ruang Pengabdian

Dalam kesempatan tersebut, IAI DIY dan PPAr UII memohon pandangan, arahan, serta dukungan dari Pemerintah Kota Yogyakarta terkait penyelenggaraan Masterclass Wellness Architecture “1 Kampung 1 Arsitek”. Program ini diharapkan mampu menjadi wadah pembelajaran sekaligus laboratorium kolaboratif bagi para arsitek, akademisi, mahasiswa, dan masyarakat untuk bersama-sama merumuskan solusi desain kampung yang kontekstual terhadap budaya lokal, kebutuhan sosial, serta tantangan lingkungan perkotaan masa kini.

Konsep wellness architecture yang diangkat dalam kegiatan ini menitikberatkan pada hubungan antara desain ruang dengan kesehatan fisik, mental, dan sosial masyarakat. Arsitektur tidak hanya dipahami sebagai upaya menciptakan bangunan yang indah secara visual, tetapi juga sebagai medium untuk membangun kualitas hidup yang lebih baik.

Dalam konteks kampung perkotaan di Yogyakarta, pendekatan ini menjadi relevan karena kampung bukan hanya ruang hunian, melainkan juga ruang interaksi sosial, aktivitas ekonomi, dan pewarisan budaya. Oleh karena itu, pengembangan desain kampung perlu dilakukan secara hati-hati agar tetap mampu menjaga identitas lokal sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat modern.

“1 Kampung 1 Arsitek” Dorong Pendampingan Kampung

Melalui pendekatan “1 Kampung 1 Arsitek”, setiap kampung diharapkan memiliki pendampingan dan pemikiran desain yang lebih terarah sehingga pengembangan kawasan dapat dilakukan secara berkelanjutan tanpa kehilangan identitas lokalnya. Pendekatan ini juga menjadi bentuk pengabdian profesi arsitek kepada masyarakat, di mana keilmuan arsitektur dapat hadir secara nyata dan memberi manfaat langsung bagi kehidupan sehari-hari warga.

Program ini diharapkan mampu mendorong lahirnya kampung-kampung yang lebih sehat, nyaman, ramah lingkungan, dan memiliki kualitas ruang yang baik. Selain itu, keterlibatan mahasiswa dan arsitek muda dalam proses pendampingan juga menjadi sarana pembelajaran lapangan yang penting untuk memahami kondisi sosial masyarakat secara langsung.

Dukungan Pemerintah Kota Yogyakarta

Audiensi berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Dalam pertemuan tersebut, Wawan Harmawan menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif IAI DIY dan PPAr UII yang dinilai sejalan dengan semangat pembangunan Kota Yogyakarta yang berbasis budaya dan ekonomi kerakyatan.

Ia berharap organisasi profesi seperti IAI DIY dapat terus berkontribusi dalam mendukung penataan arsitektur kota yang tidak hanya memperhatikan aspek estetika, tetapi juga berpihak pada kebutuhan masyarakat secara luas. Menurutnya, penataan kota di Yogyakarta memiliki tantangan tersendiri karena harus mampu menjaga keseimbangan antara perkembangan zaman dan pelestarian karakter budaya lokal.

Oleh karena itu, keterlibatan arsitek, akademisi, dan generasi muda dinilai sangat penting dalam menghasilkan gagasan-gagasan kreatif yang tetap menghormati identitas Jogja Istimewa. Pemerintah Kota Yogyakarta juga menyambut baik adanya program yang mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan lingkungan.

Menuju Kampung Berkelanjutan dan Berbudaya

Kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesi, perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam menghadirkan konsep arsitektur yang tidak hanya estetis, tetapi juga adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.

Semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Yogyakarta diharapkan dapat terus tumbuh melalui berbagai program kolaboratif seperti ini. Ke depan, sinergi antara berbagai pihak tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya model pengembangan kampung yang dapat menjadi contoh bagi wilayah lain, khususnya dalam mengintegrasikan aspek kesehatan, budaya, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat ke dalam praktik arsitektur dan perencanaan kawasan perkotaan.